Senin, 16 Maret 2009 06:59:19 Klik: 70 Kirim-kirim Print version
Penanaman padi menggunakan teknologi itensifikasi padi aerob terkendali berbasis organik (IPAT-BO) dinilai cocok dikembangkan di Kabupaten Ende. Sedianya teknologi ini akan dikembangkan pada wilayah yang merupakan sentra penghasil beras seperti kawasan utara Ende meliputi Kecamatan Kota Baru, Maurole, Weweria, dan Maukaro, serta Kecamatan Detusoko.
Kepala BKP3 Kabupaten Ende, Ir. Flafianus Senda mengatakan hal itu saat panen padi di lahan sawah milik Dominikus Davi, di Kelurahan Rewarangga Selatan, Kecamatan Ende Utara Kabupaten Ende, Kamis (12/3/2009).
Lahan sawah milik Dominikus Davi menjadi tempat ujicoba pengembangan padi dengan teknologi IPAT-BO untuk Kabupaten Ende.
Flafianus mengatakan, berdasarkan hasil ujicoba yang dilakukan di lahan Dominikus Davi menunjukan hasil optimal maka pihaknya merekomendasikan bahwa teknologi serupa secara umum dapat dikembangkan di semua wilayah di Kabupaten Ende.
Teknologi IPAT-BO hemat air, hemat pupuk dan hemat bibit namun hasilnya memuaskan. Saya rasa teknologi ini dapat dikembangkan di wilayah Kabupaten Ende yang umumnya kekurangan air, ujarny.
Menurutnya, kawasan utara Ende banyak lahan sawah namun sejuah ini belum optimal dimanfaatkan karena kekurangan air. Namun dengan teknologi penamanan padi menggunakan IPAT-BO maka lahan tersebut dapat dimanfaatkan.
Dijelaskannya, hasil ujicoba yang dilakukan di lahan sawah milik Dominikus Davi dikalkulasikan dengan menggunakan teknologi ini padi yang ditanam pada lahan 1 ha menghasilkan padi 10,4 ton dengan bibit 5 kg. Dengan teknologi manual yang dipakai petani selama ini 1 ha gunakan bibit 5 kg namun hanya menghasilkan padi 3 ton.
Dikatakannya, terkait teknologi IPAT-BO mulai tahun 2009 BKP3 Ende akan menaikan usulan kepada pemerintah dan DPRD guna mendapatkan dukungan agar teknologi ini dapat diperkenalkan kepada semua petani di kabupaten ini.
Bupati Ende, Drs. Paulinus Domi, saat panen padi mengatakan, pemerintah menyambut positif pengembangan teknologi IPAT-BO di wilayah kabupaten ini karena dinilai cocok dengan karakteristik wilayah setempat.
Dikatakan, tehknologi intensifikasi padi areob terkendali berbasis organic adalah sistem produksi holistik dan terencana dengan memanfaatkan kekuatan biologis tanah dan tanaman untuk melipatgandakan hasil padi.
Menggunakan IPAT-BO pada lahan sawah petani dapat menghemat air 75 persen, hemat bibit 50 persen, hemat pupuk anorganik 50 persen serta hemat pestisida.
Acara panen padi di arela ujicoba teknologi IPAT-BO di sawah milik Dominikus Davi, Kamis (12/3/2009) siang dilakukan tenaga harian lepas (THL) pada Kantor BKP3 Ende sebanyak 30 orang. (*)
sumber : www.pos-kupang.com
Filed under: Uncategorized
cocok sekali,,lahan tidur aja bisa napa yang lain tdk?