UMY / Indeks Berita / Berita /
Sabtu, 4 Juli 2009 | Berita
[TIM IPAT-BO] Dalam meningkatkan tanaman pangan, Kabupaten Bantul perlu mengarahkan kebijakannya pada dua sasaran baik melalui Ketahanan pangan dan pengembangan Agribisnis. Dengan menerapkan konsep Agribisnis, maka pengembangan tanaman pangan tidak bisa hanya berorientasi pada tingginya produksi, namun juga demi meningkatkan pendapatan petani.
Hal itu disampaikan Kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Bantul, Ir. Edy Suharyanta, MMA, dalam Diskusi Publik “Penerapan Intensifikasi Padi Aerob Terkendali Berbasis Organik untuk Keberlanjutan dan Kemandirian Petani,” Sabtu (4/7) di Kampus Terpadu Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.
Menurutnya, Kabupaten Bantul memiliki wilayah yang relatif sempit dibanding dengan kabupaten lain. Dari aspek penggunaan lahan, Kabupaten Bantul memiliki 16.200 ha sawah, tegal 7.054 ha, kebun campur 16.605 ha, hutan 1.224 ha, tanah tandus 603 ha, dan lainnya 8.854 ha.
“Luas wilayah Kabupaten Bantul hanya 506,85 km persegi. Dengan potensi lahan yang terbatas tersebut, maka Kabupaten Bantul harus berupaya keras dalam pengembangan tanaman pangan agar mampu berproduksi bahan pangan yang cukup bagi penduduknya, termasuk melalui usaha tani dengan skala kecil yang bisa memberikan pendapatan memadai bagi petaninya,” ungkap Edy.
Konsep Agribisnis tersebut diarahkan agar petani tidak hanya melaksanakan subsistem budi daya, namun juga menggarap pula subsistem pengolahan hasil dan pemasaran. “Selain itu, petani juga perlu diarahkan agar tidak hanya menjual tanaman pangan untuk konsumsi saja, namun juga menjual benih karena harga ini lebih mahal,” lanjut Edy.
Intensifikasi Padi Aerob Terkendali
Sementara itu, Dekan Fakultas Pertanian UMY, Ir. Agus Nugroho, MP memaparkan perkembangan teknologi budidaya padi dapat menjadi alternatif pemenuhan kebutuhan pangan dalam jangka panjang bagi Indonesia. “Sasaran jangka pendek dari sistem Intensifikasi Padi Aerob Terkendali Berbasis Organik (IPAT-BO) akan memunculkan kesadaran masyarakat dan petani mengenai perlunya melestarikan lahan dan menciptakan kondisi lingkungan yang sesuai bagi kebutuhan tanaman dengan memanfaatkan sumber daya tersedia, mengurangi penggunaan bahan kimia sintetis seperti pupuk dan pestisida buatan, serta berusaha semampunya memanfaatkan bahan-bahan alami di sekitar mereka,” papar Agus.
Sedangkan untuk jangka panjang, Agus menambahkan penciptaan lingkungan tanaman yang kondusif akan memberikan produktifitas, stabilitas, kemerataan, dan keberlanjutan sistem usaha tani yang tinggi.
Budidaya padi yang dilakukan petani selama ini, dinilai Agus mempunyai banyak kelemahan sehingga menyebabkan pertumbuhan tanaman menjadi terbatas dan hasil panen menjadi rendah. “Beberapa permasalahan tersebut diakibatkan seleksi benih, pembibitan, penanaman, irigasi penggenangan, dan pemupukan,” urai Agus.
Para petani umumnya melakukan seleksi benih dengan merendam benih di dalam air saja dan mengambil benih yang tenggelam. Benih tenggelam inilah yang belum tentu mempunyai potensi (vigor) tinggi sehingga kualitas yang dihasilkan pun kurang baik.
Melalui IPAT, penanganan bibit dilakukan dengan seksama dan menggunakan seleksi yang harus dilalui dengan larutan air garam atau cuka, pupuk. “Larutan dengan konsentrasi yang tinggi memungkinkan hanya benih dengan bobot tinggi yang mampu tenggelam,” jelas Agus. Penanaman IPAT yang menggunakan jarak tanam lebar juga berfungsi menjamin ketersediaan dan mengurangi tingkat kompetisi nutrisi, udara, cahaya matahari, dan faktor pertumbuhan lainnya selama pertumbuhan tanaman padi sampai panen.
Filed under: Uncategorized | Tinggalkan sebuah Komentar »